Hukum Ceramah dalam Rangkaian Shalat Tarawih

[DIPOSTING ATAS PERTANYAAN KRITIS FAIZ DALAM PERJALANAN PULANG SHALAT TARAWIH DARI MASJID ASH SHIDDIQ, PASADENA, 5 RAMADAN 1434, 14 JULI 2013]
[JAWABAN DIKOPAS DARI http://kangaswad.wordpress.com/2009/08/19/tinjauan-kritis-tentang-ceramah-tarawih/%5D

Tinjauan Kritis Tentang Ceramah Tarawih
Agustus 19, 2009 · by Kang Aswad · in Fatwa. ·

Pertanyaan:

Apa hukum memberikan nasehat disela shalat tarawih, atau kadang dilakukan di tengah-tengah pelaksanaan shalat tarawih secara rutin?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin:

Tidak terlarang. Jika setelah salam lalu imam berdiri untuk shalat berikutnya, kemudian ia melihat shaf agak kurang lurus, atau ma’mum terpisah-pisah hingga terdapat rongga, maka hendaknya imam memberi nasihat: “Luruskan dan rapatkan!”. Hal ini tidak terlarang. Sedangkan nasihat yang berbentuk ceramah, sebaiknya tidak dilakukan. Jika ada sesuatu yang perlu disampaikan atau suatu keperluan, sebaiknya setelah tarawih selesai. Jika melaksanakan ceramah tarawih tersebut dimaksudkan sebagai ibadah, maka ini bid’ah. Dan salah satu pertanda, ceramah tersebut dimaksudkan sebagai ibadah adalah dengan melaksanakannya secara rutin setiap malam.

Namun aku ingin bertanya: Saudaraku, mengapa engkau mengadakan ceramah disela tarawih? Bukankah sebagian orang memiliki kesibukan sehingga ia ingin segera menyelesaikan shalat tarawih karena mengaharapkan pahala yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة

“Orang yang shalat tarawih bersama imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk”

Apabila anda senang mendengarkan atau memberikan ceramah, atau juga misalnya setengah dari jamaah pun suka mendengarkan ceramah, atau bahkan tiga per empat jamaah menyukainya, maka janganlah membuat jamaah yang seperempat lagi merasa ‘terpenjara di masjid’, karena mengedepankan kesenangan dari tiga perempat jamaah lainnya. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, yang kurang lebih lafazhnya:

إذا أمّ أحدكم الناس فليخفف فإن من ورائه ضعيف والمريض وذي الحاجة

“Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan ma’mum terdapat orang lemah, orang sakit dan orang yang memiliki keperluan”

Maksudnya, janganlah samakan keadaan orang lain dengan keadaanmu atau keadaan orang yang lainnya yang senang mendengarkan ceramah. Hendaknya terapkan standar yang membuat semuanya merasa lega. Maka imamilah tarawih sampai selesai, jika anda selesai dan ma’mum pun sudah selesai, silakan sampaikan apa yang hendak anda sampaikan.

Kita memohon kepada Allah agar Ia menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta amal shalih.Ajaklah mereka dengan bahasa yang menyenangkan untuk menghadiri majelis ilmu

من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له به طريقاً إلى الجنة

“Orang yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu,maka Allah akan permudah jalannya menuju surga”

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Kaset Liqaa Bab Al-Maftuh No.118

Sumber: http://www.iislamqa.com/paging_fatawa.php?bid=2264&tid=3309

Jawaban Syaikh Abdur Rahman bin Nashir Al Barraak:

Alhamdulillah. Mengajarkan perkara agama kepada manusia, disyariatkan di setiap waktu. Karena hal tersebut adalah da’wah ilallah dan merupakan usaha penyebaran ajaran agama. Namun sebaiknya anda melihat masing-masing kondisi manusia, atau memilih waktu yang tepat sehingga umumnya mereka siap menerima materi. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Dan Rasulullah Shallalalhu’alaihi Wasallam biasa memperhatikan kesiapan orang yang diberi ceramah karena khawatir mereka jengkel. Ini para sahabat, dan guru mereka adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Demikian juga, terdapat riwayat tentang Ibnu Mas’ud bahwa beliau juga memperhatikan kesiapan orang yang diberi ceramah. Demikian teladan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan tidak ada contoh dari para sahabat dan tabi’in dalam mengkhususkan ceramah tertentu di bulan Ramadhan. Mereka bersepakat untuk memperbanyak membaca Al Qur’an dan menunda kesibukan lain seperti belajar agama atau banyak mengobrol sampai bulan Ramadhan selesai.

Berkaitan dengan hal tersebut, yaitu masalah ceramah tarawih yang dilakukan disela-sela atau setelahnya secara rutin, ini menyebabkan sebagian makmum merasa jengkel. Maka sebaiknya tidak terlalu banyak melakukannya. Yang baik, hendaknya menyampaikannya sebelum shalat fadhu atau setelah selesai tarawih, namun jangan dilakukan secara rutin, juga jangan terlalu lama.

Namun menurutku, tidak perlu diadakan ceramah tarawih sedikitpun, agar meringankan orang yang berharap agar shalat tarawih segera selesai karena memiliki keperluan. Selain itu juga, adanya ceramah tarawih ini juga dapat menghambat orang untuk melakukan aktivitas membaca Al Qur’an, yang mereka prioritaskan untuk mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan. Karena mereka sudah memprogramkan untuk meng-khatam-kan Al Qur’an dalam waktu tertentu.

Dan perlu diketahui, ada imam-imam masjid yang berlomba-lomba memperbanyak acara pengajian dengan berbagai macam tema, ada juga yang menguranginya. Kita memohon kebaikan kepada Allah atas niat dan usaha mereka.

وأن ينفعنا بما علمنا، وأن يلهمنا هدي نبينه الكريم صلى الله عليه وسلم

Sumber: http://islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&Itemid=0&catid=349&id=27817

Keterangan dari saya:

Bagi yang membaca dengan seksama, penjelasan beliau berdua ini bukanlah membid’ahkan ceramah tarawih. Mereka menganjurkan sebaiknya tidak perlu diadakan dengan alasan:

Shalat tarawih itu rakaatnya banyak dan dilakukan berjamaah, bagi sebagian orang ini sudah berat. Apalagi ditambah dengan adanya ceramah. Dan ini kita lihat sendiri pada realita, kebanyakan orang terkantuk-kantuk ketika mendengarkan ceramah tarawih. Selain itu untk meringankan makmum yang memiliki keperluan. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan para imam untuk meringankan makmumnya.
Adanya ceramah ditengah tarawih membuat jengkel sebagian orang dan ia keluar dari jamaah sebelum shalat selesai semua, misalnya keluar setelah 8 rakaat dan mengerjaan witirnya di rumah. Padahal jika tidak ada ceramah mungkin ia akan ikut sampai selesai dan mendapatkan keutamaan pahala shalat semalam suntuk.
Tidak ada teladan dari para sahabat dan ulama terdahulu
Agar umat muslim bisa menyibukkan diri membaca Al Qur’an

Saya juga berprasangka, bisa jadi berkurangnya jamaah shalat tarawih dari hari-ke-hari dikarenakan adanya ceramah ini. Andaikan shalat tarawih dilakukan tanpa ceramah tentu lebih cepat dan ringan sehingga orang-orang semangat melakukannya.

Kemudian beliau berdua membolehkan ceramah tarawih dengan syarat:

Tidak dimaksudkan sebagai ibadah. Dengan kata lain, tidak boleh berkeyakinan bahwa ada ceramah itu lebih afdhal, dan jika tidak ada merasa ada yang kurang.
Ceramahnya tidak lama
Sebaiknya dilakukan setelah shalat selesai semua
Tidak dilakukan secara rutin setiap hari

Ceramah tarawih bisa terjerumus ke dalam bid’ah jika diniatkan dalam rangka ibadah tersendiri. Walau niat adalah masalah hati, namun ada indikasi yang dapat dikenali misalnya berkeyakinan bahwa ada ceramah itu lebih afdhal, dan jika tidak ada merasa ada yang kurang, tanda yang lain adalah melaksanakannya secara rutin setiap hari.

Imbauan ini sejatinya bagi para pengurus masjid atau orang yang berkewenangan terhadap kegiatan masjid. Jadi, jika anda pengurus masjid, sebaiknya dipertimbangkan lagi dalam menyelenggarakan ceramah tarawih. Atau jika anda jamaah masjid, anda bisa memberikan masukan kepada pengurus masjid tentang hal ini.

Wallahu’alam.

[JAWABAN KEDUA BERIKUT INI DIKOPAS DARI http://abuzuhriy.com/fatwa-ulama-mengenai-ceramah-tarawih/%5D

Fatwa ‘ulama mengenai ‘ceramah tarawih’

Mungkin sebagian dari kita menganggap ceramah di sela-sela tarawih adalah sunnah. Mungkin juga sebagian yang lain menganggap ini adalah bid’ah secara mutlak. Bagaimanakah pandangan ulama mengenai ‘ceramah tarawih’ ini? Mari kita menyimak penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy berikut…

Syaikh al-Albaniy råhimahullåh berkata:

“Hari-hari ramadhån adalah hari-hari ibadah, bukan ‘ilmu. (Adapun) untuk ‘ilmu, ada waktu lainnya lagi. Maka pada asalnya, tidak selayaknya di sela-sela tarawih digunakan untuk kultum, ceramah, dan pengajian. Ini bukan termasuk sunnah, karena waktu itu adalah waktu untuk ibadah bukan waktu untuk ilmu.

Namun disebabkan kurangnya kaum muslimin sekarang dalam menuntut ilmu 1 dan kurangnya ahli ilmu dalam menyampaikan ilmu kepada manusia, maka manusia mendapatkan pada waktu tersebut kesempatan berharga untuk menyampaikan ilmu yang dibutuhkan masyarakat dalam waktu yang tepat bagi mereka.”

(Kaset Liqå’atu al-Huwayniy Ma’a al-Albaniy 7/B)

Dikomentari al-Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa atau/dan al-Ustadz Abu Ubaydah Yusuf as-Sidawiy Hafizhahumallåh:

“Dari perkataan beliau ini, sangat jelas menunjukkan bahwa kultum setelah [atau sebelum -abuzuhriy] tarawih, tidak bisa dikatakan bid’ah secara mutlak. Wallåhu A’lam

[Dinukil dari: “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al-Qur-an dan Sunnah”, karya al-Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa dan al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawiy, hlm. 81, dalam catatan kaki no. 250, Pustaka al-Furqon, cetakan Jumada Tsaniyah 1431H, http://abuzuhriy.com/?p=1899%5D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s