Ngegame sambil Belajar Jawa (Lomba IT Project)

Suara Merdeka, 07 Januari 2014 (Klik: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/01/07/248597 )

Zaman sekarang ini emang serbacanggih. Buat belajar aja nggak melulu duduk manis di dalam kelas. Sekarang dengan memainkan gamekamu pun bisa belajar dan mengetahui suatu hal baru.

Seperti aplikasi gameyang dibuat ketiga kawanmu dari SMA3 Semarang beberapa waktu lalu. Yap, pada akhir 2013, Charis Achmad T(16), Dzaky Zakiyal F (16), Barick Muhammad D (16) mengikuti kompetisi Pekan Informasi dan Teknologi Festival 2013 di UNS Solo dan membawa pulang piala juara pertama dalam kategori lomba IT Project. Mereka menciptakan aplikasi gameuntuk ponsel pintar dan android yakni Game Edukasi Budaya Jawa Jabang Tetuka.

Nggak sematamata berfungsi menghibur seperti laiknya gamepada umumnya, gameyang mereka buat itu bisa jadi salah satu medium yang bisa digunakan untuk mengenalkan salah satu budaya Jawa yaitu cerita pewayangan. Yap, gameyang mereka buat mengisahkan tentang perjalanan Gatotkaca untuk menjadi sakti dengan memiliki beberapa jurus dan pusaka.

”Dalam gameini ada percakapan antara Gatotkaca dengan beberapa tokoh yang ditemuinya yang intinya mengenalkan budaya Jawa sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral,” ungkap Charis, cowok yang memang bertugas menyusun isi cerita dalam game tersebut.

Melestarikan Budaya

Gametersebut membuktikan tindakan nyata mereka untuk nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa. Selain mengenalkan kisah tokoh wayang sakti mandraguna, dalam gameyang bisa dibilang satu-satunya yang mengangkat cerita pewayangan sesuai alur cerita runut itu juga diselipkan pengenalan huruf-huruf Jawa hanacaraka.

”Nah, untuk bisa menyelesaikan gameini dengan baik, pengguna pun dituntut mengenal huruf Jawa. Jadi, harapannya dari gameini pengguna bakal tertantang mempelajari hurufhuruf Jawa untuk bisa memecahkan teka-teki dalam gametersebut,” jelas Barick, perancang desain game Edukasi Budaya Jawa Jabang Tetuka.

Tak puas dan berhenti disitu aja, mereka bertiga akan terus menyempurnakan game yang menurut mereka masih banyak kekurangannya itu.

”Setelah gametersebut sempurna, kami tertantang untuk membuat aplikasi gamelain, entah mengekplorasi di bidang pendidikan, budaya ataupun religi. Yang pasti membuat gameyang bisa mengedukasi,” tandas Dzaky, siswa kelas XI yang bertugas mengatur kode (coding) pemprograman dalam aplikasi game buatan mereka. (62)

Ike Purwaningsih

 

Tidur Hanya 4 Jam ( Juara I LKTI Jateng)

Suara Merdeka, 03 Oktober 2012 (klik: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2012/10/03/200793 )

CITA-cita dan impian tak akan terwujud jika tidak disertai upaya dan doa. Memanajemen serta disiplin waktu  menjadi kunci kesuksesan yang dipegang tiga serangkai Ariaseta Setia Alam (18), Yama Dharma (15), dan Charis Achmad (15), hingga meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Jawa Tengah yang diadakan Balitbang di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, belum lama ini.

Ya, mereka adalah siswa SMA 3 Semarang yang tergabung dalam Ganesha Bussines Club (GBC). Melalui pengalamannya di ekstrakurikuler dan bercita-cita menjadi wirausahawan, mereka kemudian menuangkan dalam karya tulis yang dilombakan. Pada karya tulis berjudul ”Upaya Meningkatkan Jiwa dan Keterampilan Wirausaha pada Pelajar untuk Mengatasi Pengangguran Melalui Usaha Pelajar: Studi Kasus di GBC SMA 3 Semarang” itu, mereka berusaha menjelaskan praktik berwirausaha di sekolah.

Kepemimpinan

”Pendidikan kewirausahaan yang dilatihkan kepada siswa yang bergabung di GBC meliputi kepemimpinan, public speaking, dan manajemen waktu. Adapun lainnya, masih ada praktik jual beli dan membentuk usaha serta menciptakan produk baru yang bisa dipasarkan sebagai bagian pengembangan kreativitas,” kata Ariaseta, siswa kelas XII IPA 1 itu.

Aktif dalam kegiatan GBC dengan fokus berlatih berwirausaha dan tetap mengikuti pelajaran di sekolah, memang tidak mudah. Karena itu, manajemen dan disiplin waktu juga menjadi prinsip yang harus dipegang para entrepreneur muda.
”Sempat ada yang mengatakan kami (anak-anak GBC-Red) aneh, karena ketika mempresentasikan karya tulis, kami mengungkapkan hanya sempat tidur empat jam dalam sehari,” ungkap Aria yang disepakati Yama dan Charis yang tergabung dalam GBC itu.

Waktu tidur yang hanya empat jam, kata Yama, sudah cukup sebab selebihnya dia melakukan hal lain, seperti belajar untuk sekolah dan merancang proyek wirausaha.
Ketertarikannya fokus di bidang wirausaha, karena dirinya tidak mau menjadi pengangguran terdidik yang menunggu pekerjaan seusai lulus kuliah nanti.

Sama halnya dengan Yama, Aria juga melakukan hal itu. Selain belajar, kesibukan lainnya adalah membuat website manajemen perusahaan di toko komputer dan toko alat musik online yang dirintisnya bersama teman lainnya.
Sementara Charis, bergabung di GBC karena bercita-cita menjadi ahli pertanian dan hendak mengembangkan bidang agrobisnis. (Anggun Puspita-37)

Lomba Karya Tulis Ilmiah Jateng

Harian “Suara Semarang”, Kamis 27 September 2012 (klik : http://hariansemarangeducation.blogspot.com/2012/09/sma-3-juara-i-lomba-karya-tulis-ilmiah.html

SEMARANG- Tiga siswa SMAN 3 Semarang jadi Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan Balitbang di Unsoed Purwokerto, belum lama ini.

Cita-cita dan impian tak akan terwujud jika tidak disertai upaya serta doa. Manajemen yang baik dan disiplin waktu pun menjadi kunci kesuksesan yang dipegang oleh tiga serangkai Ariaseta Setia Alam (18), Yama Dharma (15), dan Charis Achmad (15) hingga meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan Balitbang di Unsoed Purwokerto, belum lama ini.

Ya, ketiganya adalah siswa SMA 3 Semarang yang tergabung dalam Ganesha Bussines Club (GBC). Melalui pengalamannya di ekstrakurikuler itu dan bercita-cita menjadi wirausahawan, kemudian mereka menuangkan dalam karya tulis yang dilombakan tersebut. Pada karya tulis yang berjudul ”Upaya Meningkatkan Jiwa dan Keterampilan Wirausaha pada Pelajar untuk Mengatasi Pengangguran Melalui Usaha Pelajar: Studi Kasus di GBC SMA 3 Semarang” itu mereka berusaha menjelaskan praktik berwirausaha di sekolah.

”Pendidikan kewirausahaan yang dilatihkan kepada siswa yang bergabung di GBC meliputi kepemimpinan, public speaking, dan manajemen waktu. Adapun lainnya, masih ada praktik jual beli dan membentuk usaha serta menciptakan produk baru yang bisa dipasarkan sebagai bagian pengembangan kreativitas,” jelas Ariaseta, siswa kelas XII IPA 1.

Aktif dalam kegiatan GBC dengan fokus berlatih berwirausaha dan tetap mengikuti pelajaran di sekolah memang tidak mudah. Maka itu, manajemen dan disiplin waktu juga menjadi prinsip yang harus dipegang para entrepreneur muda.

”Sempat ada yang mengatakan kami (anak-anak GBC,-red) aneh karena ketika mempresentasikan karya tulis, kami mengungkapkan hanya sempat tidur empat jam dalam sehari,” ungkap Aria yang disepakati Yama dan Charis.

Waktu tidur yang hanya empat jam, kata Yama, sudah cukup sebab selebihnya dia melakukan hal lain seperti belajar untuk sekolah dan merancang proyek wirausaha. Ketertarikannya fokus di bidang wirausaha karena dirinya tidak mau menjadi pengangguran terdidik yang menunggu pekerjaan seusai lulus kuliah nanti.

Sama halnya dengan Yama, Aria juga melakukan hal itu, selain belajar kesibukan lainnya adalah membuat laman manajemen perusahaan di toko komputer dan toko alat musik online yang dirintisnya bersama teman lainnya. Sedangkan Charis, bergabung di GBC karena bercita-cita menjadi ahli pertanian dan hendak mengembangkan bidang agrobisnis. (Anggun PuspitaJBSM/15)

Hukum Ceramah dalam Rangkaian Shalat Tarawih

[DIPOSTING ATAS PERTANYAAN KRITIS FAIZ DALAM PERJALANAN PULANG SHALAT TARAWIH DARI MASJID ASH SHIDDIQ, PASADENA, 5 RAMADAN 1434, 14 JULI 2013]
[JAWABAN DIKOPAS DARI http://kangaswad.wordpress.com/2009/08/19/tinjauan-kritis-tentang-ceramah-tarawih/%5D

Tinjauan Kritis Tentang Ceramah Tarawih
Agustus 19, 2009 · by Kang Aswad · in Fatwa. ·

Pertanyaan:

Apa hukum memberikan nasehat disela shalat tarawih, atau kadang dilakukan di tengah-tengah pelaksanaan shalat tarawih secara rutin?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin:

Tidak terlarang. Jika setelah salam lalu imam berdiri untuk shalat berikutnya, kemudian ia melihat shaf agak kurang lurus, atau ma’mum terpisah-pisah hingga terdapat rongga, maka hendaknya imam memberi nasihat: “Luruskan dan rapatkan!”. Hal ini tidak terlarang. Sedangkan nasihat yang berbentuk ceramah, sebaiknya tidak dilakukan. Jika ada sesuatu yang perlu disampaikan atau suatu keperluan, sebaiknya setelah tarawih selesai. Jika melaksanakan ceramah tarawih tersebut dimaksudkan sebagai ibadah, maka ini bid’ah. Dan salah satu pertanda, ceramah tersebut dimaksudkan sebagai ibadah adalah dengan melaksanakannya secara rutin setiap malam.

Namun aku ingin bertanya: Saudaraku, mengapa engkau mengadakan ceramah disela tarawih? Bukankah sebagian orang memiliki kesibukan sehingga ia ingin segera menyelesaikan shalat tarawih karena mengaharapkan pahala yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة

“Orang yang shalat tarawih bersama imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk”

Apabila anda senang mendengarkan atau memberikan ceramah, atau juga misalnya setengah dari jamaah pun suka mendengarkan ceramah, atau bahkan tiga per empat jamaah menyukainya, maka janganlah membuat jamaah yang seperempat lagi merasa ‘terpenjara di masjid’, karena mengedepankan kesenangan dari tiga perempat jamaah lainnya. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, yang kurang lebih lafazhnya:

إذا أمّ أحدكم الناس فليخفف فإن من ورائه ضعيف والمريض وذي الحاجة

“Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan ma’mum terdapat orang lemah, orang sakit dan orang yang memiliki keperluan”

Maksudnya, janganlah samakan keadaan orang lain dengan keadaanmu atau keadaan orang yang lainnya yang senang mendengarkan ceramah. Hendaknya terapkan standar yang membuat semuanya merasa lega. Maka imamilah tarawih sampai selesai, jika anda selesai dan ma’mum pun sudah selesai, silakan sampaikan apa yang hendak anda sampaikan.

Kita memohon kepada Allah agar Ia menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta amal shalih.Ajaklah mereka dengan bahasa yang menyenangkan untuk menghadiri majelis ilmu

من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له به طريقاً إلى الجنة

“Orang yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu,maka Allah akan permudah jalannya menuju surga”

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Kaset Liqaa Bab Al-Maftuh No.118

Sumber: http://www.iislamqa.com/paging_fatawa.php?bid=2264&tid=3309

Jawaban Syaikh Abdur Rahman bin Nashir Al Barraak:

Alhamdulillah. Mengajarkan perkara agama kepada manusia, disyariatkan di setiap waktu. Karena hal tersebut adalah da’wah ilallah dan merupakan usaha penyebaran ajaran agama. Namun sebaiknya anda melihat masing-masing kondisi manusia, atau memilih waktu yang tepat sehingga umumnya mereka siap menerima materi. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Dan Rasulullah Shallalalhu’alaihi Wasallam biasa memperhatikan kesiapan orang yang diberi ceramah karena khawatir mereka jengkel. Ini para sahabat, dan guru mereka adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Demikian juga, terdapat riwayat tentang Ibnu Mas’ud bahwa beliau juga memperhatikan kesiapan orang yang diberi ceramah. Demikian teladan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan tidak ada contoh dari para sahabat dan tabi’in dalam mengkhususkan ceramah tertentu di bulan Ramadhan. Mereka bersepakat untuk memperbanyak membaca Al Qur’an dan menunda kesibukan lain seperti belajar agama atau banyak mengobrol sampai bulan Ramadhan selesai.

Berkaitan dengan hal tersebut, yaitu masalah ceramah tarawih yang dilakukan disela-sela atau setelahnya secara rutin, ini menyebabkan sebagian makmum merasa jengkel. Maka sebaiknya tidak terlalu banyak melakukannya. Yang baik, hendaknya menyampaikannya sebelum shalat fadhu atau setelah selesai tarawih, namun jangan dilakukan secara rutin, juga jangan terlalu lama.

Namun menurutku, tidak perlu diadakan ceramah tarawih sedikitpun, agar meringankan orang yang berharap agar shalat tarawih segera selesai karena memiliki keperluan. Selain itu juga, adanya ceramah tarawih ini juga dapat menghambat orang untuk melakukan aktivitas membaca Al Qur’an, yang mereka prioritaskan untuk mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan. Karena mereka sudah memprogramkan untuk meng-khatam-kan Al Qur’an dalam waktu tertentu.

Dan perlu diketahui, ada imam-imam masjid yang berlomba-lomba memperbanyak acara pengajian dengan berbagai macam tema, ada juga yang menguranginya. Kita memohon kebaikan kepada Allah atas niat dan usaha mereka.

وأن ينفعنا بما علمنا، وأن يلهمنا هدي نبينه الكريم صلى الله عليه وسلم

Sumber: http://islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&Itemid=0&catid=349&id=27817

Keterangan dari saya:

Bagi yang membaca dengan seksama, penjelasan beliau berdua ini bukanlah membid’ahkan ceramah tarawih. Mereka menganjurkan sebaiknya tidak perlu diadakan dengan alasan:

Shalat tarawih itu rakaatnya banyak dan dilakukan berjamaah, bagi sebagian orang ini sudah berat. Apalagi ditambah dengan adanya ceramah. Dan ini kita lihat sendiri pada realita, kebanyakan orang terkantuk-kantuk ketika mendengarkan ceramah tarawih. Selain itu untk meringankan makmum yang memiliki keperluan. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan para imam untuk meringankan makmumnya.
Adanya ceramah ditengah tarawih membuat jengkel sebagian orang dan ia keluar dari jamaah sebelum shalat selesai semua, misalnya keluar setelah 8 rakaat dan mengerjaan witirnya di rumah. Padahal jika tidak ada ceramah mungkin ia akan ikut sampai selesai dan mendapatkan keutamaan pahala shalat semalam suntuk.
Tidak ada teladan dari para sahabat dan ulama terdahulu
Agar umat muslim bisa menyibukkan diri membaca Al Qur’an

Saya juga berprasangka, bisa jadi berkurangnya jamaah shalat tarawih dari hari-ke-hari dikarenakan adanya ceramah ini. Andaikan shalat tarawih dilakukan tanpa ceramah tentu lebih cepat dan ringan sehingga orang-orang semangat melakukannya.

Kemudian beliau berdua membolehkan ceramah tarawih dengan syarat:

Tidak dimaksudkan sebagai ibadah. Dengan kata lain, tidak boleh berkeyakinan bahwa ada ceramah itu lebih afdhal, dan jika tidak ada merasa ada yang kurang.
Ceramahnya tidak lama
Sebaiknya dilakukan setelah shalat selesai semua
Tidak dilakukan secara rutin setiap hari

Ceramah tarawih bisa terjerumus ke dalam bid’ah jika diniatkan dalam rangka ibadah tersendiri. Walau niat adalah masalah hati, namun ada indikasi yang dapat dikenali misalnya berkeyakinan bahwa ada ceramah itu lebih afdhal, dan jika tidak ada merasa ada yang kurang, tanda yang lain adalah melaksanakannya secara rutin setiap hari.

Imbauan ini sejatinya bagi para pengurus masjid atau orang yang berkewenangan terhadap kegiatan masjid. Jadi, jika anda pengurus masjid, sebaiknya dipertimbangkan lagi dalam menyelenggarakan ceramah tarawih. Atau jika anda jamaah masjid, anda bisa memberikan masukan kepada pengurus masjid tentang hal ini.

Wallahu’alam.

[JAWABAN KEDUA BERIKUT INI DIKOPAS DARI http://abuzuhriy.com/fatwa-ulama-mengenai-ceramah-tarawih/%5D

Fatwa ‘ulama mengenai ‘ceramah tarawih’

Mungkin sebagian dari kita menganggap ceramah di sela-sela tarawih adalah sunnah. Mungkin juga sebagian yang lain menganggap ini adalah bid’ah secara mutlak. Bagaimanakah pandangan ulama mengenai ‘ceramah tarawih’ ini? Mari kita menyimak penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy berikut…

Syaikh al-Albaniy råhimahullåh berkata:

“Hari-hari ramadhån adalah hari-hari ibadah, bukan ‘ilmu. (Adapun) untuk ‘ilmu, ada waktu lainnya lagi. Maka pada asalnya, tidak selayaknya di sela-sela tarawih digunakan untuk kultum, ceramah, dan pengajian. Ini bukan termasuk sunnah, karena waktu itu adalah waktu untuk ibadah bukan waktu untuk ilmu.

Namun disebabkan kurangnya kaum muslimin sekarang dalam menuntut ilmu 1 dan kurangnya ahli ilmu dalam menyampaikan ilmu kepada manusia, maka manusia mendapatkan pada waktu tersebut kesempatan berharga untuk menyampaikan ilmu yang dibutuhkan masyarakat dalam waktu yang tepat bagi mereka.”

(Kaset Liqå’atu al-Huwayniy Ma’a al-Albaniy 7/B)

Dikomentari al-Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa atau/dan al-Ustadz Abu Ubaydah Yusuf as-Sidawiy Hafizhahumallåh:

“Dari perkataan beliau ini, sangat jelas menunjukkan bahwa kultum setelah [atau sebelum -abuzuhriy] tarawih, tidak bisa dikatakan bid’ah secara mutlak. Wallåhu A’lam

[Dinukil dari: “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al-Qur-an dan Sunnah”, karya al-Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa dan al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawiy, hlm. 81, dalam catatan kaki no. 250, Pustaka al-Furqon, cetakan Jumada Tsaniyah 1431H, http://abuzuhriy.com/?p=1899%5D

Wanita Lebih Baik Shalat Tarawih di Masjid atau di Rumah?

{Diposting atas pertanyaan Ummu Charis}

shalat tarawih wanitaManakah yang lebih baik bagi wanita, shalat tarawih di masjid ataukah di rumah?

Terlebih dahulu kita lihat bersama penjelasan para ulama mengenai shalat tarawih bagi wanita.

Fatwa Komisi Tetap dalam Riset Ilmiyyah dan Fatwa di Saudi Arabia

Soal: Apakah boleh bagi seseorang melaksanakan shalat tarawih sendirian jika dia luput dari shalat berjama’ah? Dan apakah shalat tarawih untuk wanita lebih baik di rumah ataukah di masjid?

Jawab: Disyariatkan untuk laki-laki –apabila luput dari shalat jama’ah tarawih-, maka dia menunaikannya sendirian. Adapun shalat tarawih untuk wanita lebih baik dilakukan di rumah daripada di masjid. Wa billahi taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.
Yang menandatangani fatwa ini: Abdullah bin Qo’ud dan Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, dan ‘Abdul Aziz bin Baz sebagai Ketua. [1]

Penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy\

Jika menimbulkan godaan ketika keluar rumah (ketika melaksanakan shalat tarawih), maka shalat di rumah lebih utama bagi wanita daripada di masjid. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy. Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ … وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى

”Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. … Shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” [2]

Namun jika wanita tersebut merasa tidak sempurna mengerjakan shalat tarawih tersebut di rumah atau malah malas-malasan, juga jika dia pergi ke masjid akan mendapat faedah lain bukan hanya shalat (seperti dapat mendengarkan nasehat-nasehat agama atau pelajaran dari orang yang berilmu atau dapat pula bertemu dengan wanita-wanita muslimah yang sholihah atau di masjid para wanita yang saling bersua bisa saling mengingatkan untuk banyak mendekatkan diri pada Allah, atau dapat menyimak Al Qur’an dari seorang qori’ yang bagus bacaannya), maka dalam kondisi seperti ini, wanita boleh saja keluar rumah menuju masjid. Hal ini diperbolehkan bagi wanita asalkan dia tetap menutup aurat dengan menggunakan hijab yang sempurna, keluar tanpa memakai harum-haruman (parfum), dan keluarnya pun dengan izin suami. Apabila wanita berkeinginan menunaikan shalat jama’ah di masjid (setelah memperhatikan syarat-syarat tadi), hendaklah suami tidak melarangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.” [3]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ

“Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” [4]. Inilah penjelasan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohullah yang penulis sarikan. [5]

Menarik Pelajaran

Dari penjelasan para ulama di atas dapat kita simpulkan bahwa shalat tarawih untuk wanita lebih baik adalah di rumahnya apalagi jika dapat menimbulkan fitnah atau godaan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengatakan bahwa shalat bagi wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya yaitu Masjid Nabawi. Padahal kita telah mengetahui bahwa pahala yang diperoleh akan berlipat-lipat apabila seseorang melaksanakan shalat di masjid beliau yaitu Masjid Nabawi.

Namun apabila pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan sudah berhijab dengan sempurna, juga di masjid bisa dapat faedah lain selain shalat seperti dapat mendengar nasehat-nasehat dari orang yang berilmu, maka shalat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memperhatikan syarat-syarat ketika keluar rumah. Di antara syarat-syarat tersebut adalah:

Pertama, menggunakan hijab dengan sempurna ketika keluar rumah sebagaimana perintah Allah agar wanita memakai jilbab dan menutupi seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan.

Kedua, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami atau mahrom tidak melarangnya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ

“Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Keluarnya wanita ke masjid, jika tidak menimbulkan fitnah dan selama tidak menggunakan harum-haruman.”

Ketiga, tidak menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan godaan.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ

“Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami.” (HR. Muslim)
Zainab -istri ‘Abdullah- mengatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para wanita,
إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا

“Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman.” (HR. Muslim)

Keempat, jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.
Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.” (HR. Bukhari)

Demikian penjelasan kami mengenai shalat tarawih bagi wanita. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian.

***

Selesai disusun 8 Ramadhan 1430 H di Panggang, Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://www.rumaysho.com